Slogi Entertainment Workshop: Bertahan di Jalur Musik Nonrecording

MEMPERTAHANKAN eksistensi di jalur industri musik nonrecording selama puluhan tahun bukanlah perkara mudah. Perlu ketekunan serta strategi pemasaran yang tepat agar bisa bersaing di belantika musik nasional. Jika hal itu tidak diterapkan, jangan harap mampu berkiprah di tengah gempuran band-band pendatang baru yang terus bermunculan bak laron di musim hujan.

Sadar akan kondisi tersebut, Sanggar Slogi Entertainment Workshop yang mewadahi belasan grup band terus berbenah di usianya yang ke-22 tahun. Pada acara ulang tahun yang dirayakan secara sederhana di salah satu bar and lounge kawasan Jln. Braga Bandung, Senin (1/3), awak Slogi berkomitmen untuk terus berkarya kendati melalui jalur kafe.

Menurut pimpinan Slogi Entertainment Workshop, Hendar Sibra didampingi Rad Manager, Bayu Slawat, pihaknya tak akan lelah menyemarakkan pentas musik Tanah Air meski hanya sebatas menghibur di kafe maupun acara gathering.

“Bagi kita, membangun industri musik itu tak mesti harus masuk dapur rekaman. Dengan bisa menghibur di kafe atau acara tertentu, sudah sangat berharga bagi kami,” kata Hendar.

Kubu Slogi patut mendapat acungan jempol. Di saat band lain terus giat membidik dapur rekaman, mereka masih anteng menjalani long trip. Contohnya Slogi Band. Grup yang digawangi Farhan Muxi (vokal/bas), Ronny (vokal), Dinda (vokal), Askar (gitar), serta Yan Dinar (keyboard) ini kian berkibar di sejumlah kafe di Indonesia.

Hampir seluruh tempat hiburan malam di kota-kota besar telah disinggahi Farhan cs sejak 22 tahun silam. Uniknya, meski dirintis di Bandung, Slogi justru baru eksis di kota kelahirannya pada 2002. “Hal itu karena anak-anak Slogi sering mendapat tawaran long trip di luar Jawa,” ujar Bayu.

Slogi Band bukannya tak berminat untuk rekaman. Mereka sudah melakukannya, namun karena dianggap kurang mulus, Yan Dinar dan kawan-kawan lebih fokus untuk mentas secara live. “Kita enggak idealis harus terus main di kafe. Jika saatnya tiba dan ada kesempatan, kita tentu bakal bikin album lagi,” ucap Bayu yang diamini anak-anak Slogi.

Minimnya kesempatan, timpal Hendar, karena jadwal Slogi Band sangat padat. Mereka sudah terikat kontrak di Entro Bar and Lounge Bandung untuk mengisi acara tiap malam. “Cuma hari Minggu aja anak-anak libur. Jadi kalau ada yang mau pake Slogi, cuma bisa hari Minggu, selebihnya jadwal anak-anak full,” kata Hendar.

Selain Slogi, yang jadi andalan Hendar adalah Lafrosia. Grup band yang beranggotakan 8 cewek cantik ini terdiri dari Icha (vokal), Swenie F. Lestari (vokal), Rosa (vokal), Mia Chitra Resmi (gitar), Melly Susanti (bas), Rita Rosmelati (drum), Tesa Oktaviana (keyboard), dan Vita Damayanti (keyboard) itu mulai menapak studio rekaman. Lewat album “Good Bye ABG”, Wenie dan kawan-kawan telah menanggalkan predikat band spesialis kafe. “Tapi bukan berarti kita tak lagi mau main di kafe. Kita tak ingin dianggap kacang lupa pada kulitnya.

Bagi kita, main di mana saja oke, selama masyarakat terhibur,” ujar sang vokalis, Icha. Pada usianya yang ke-22, Slogi Entertainment Workshop berharap makin dewasa dalam berkarya serta terus diakui publik musik Indonesia. “Intinya, kita ingin menjadi bagian dari penghibur di ranah musik nasional. (mza/”GM”)**

SHARE